Monday, June 4, 2012

Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut pada Remaja

Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut pada Remaja

Banyak masalah kesehatan gigi dan mulut yang menjadi persoalan bagi para remaja. Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sering kali diabaikan oleh para remaja. Sebaliknya, begitu banyak kebiasaan-kebiasaan buruk para remaja yang dapat menyebabkan kerusakan pada gigi dan mulut. Kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut antara lain : kebiasaan mengonsumsi makanan manis dan lengket (misalnya: permen, coklat); kebiasaan mengonsumsi minuman-minuman yang manis dan berkarbonasi; dan kebiasaan merokok.
Masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering dialami oleh para remaja, antara lain: gigi berlubang, posisi gigi yang tidak beraturan/ tidak rapi, adanya pewarnaan pada gigi, gusi berdarah, sariawan, dan bau mulut. Masalah-masalah kesehatan gigi dan mulut ini apabila tidak segera diatasi dapat menimbulkan persoalan bagi para remaja nantinya. Selain mengganggu produktivitas kerja dan pergaulan sehari-hari, masalah kesehatan gigi juga dapat menimbulkan persoalan pada saat para remaja memasuki dunia kerja nantinya. Banyak remaja yang harus kecewa karena tidak dapat mewujudkan cita-citanya memasuki profesi kerja yang diinginkan karena kondisi kesehatan gigi yang tidak memenuhi persyaratan. Berikut akan dibahas mengenai masalah-masalah kesehatan gigi yang banyak dialami para remaja.

Gigi berlubang
Hampir setiap orang pernah merasakan sakit gigi. Factor penyebabnya bisa bermacam-macam, tetapi kebanyakan orang sakit gigi karena giginya berlubang besar dan sudah mengenai bagian pulpa. Gigi berlubang atau karies adalah penyakit jaringan keras gigi akibat aktivitas bakteri yang menyebabkan terjadinya pelunakan dan selanjutnya terjadi lubang/ rongga pada gigi.
Proses terjadinya lubang pada gigi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berinteraksi, yaitu: adanya bakteri di dalam plak, gula, waktu dan juga gigi itu sendiri. Makanan yang mengandung gula bisa terselip atau menempel di gigi. Jika tidak dibersihkan segera setelah makan, maka bakteri akan mengubahnya menjadi asam yang dapat menurunkan pH rongga mulut. Penurunan pH yang berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu akan mengakibatkan demineralisasi/ pelunakan gigi secara perlahan-lahan. Jika hal ini terus dibiarkan, maka dapat mengakibatkan lubang pada gigi terus membesar atau meluas. Gigi yang sudah menajdi lubang tidak bisa utuh lagi. Sekali berlubang akan tetap berlubang, bahkan akan semakin besar dan dalam.
Perjalanan penyakit gigi berlubang ini terjadi secara perlahan dan bertahap. Mula-mula lubang gigi ini akan mengenai lapisan email dan disebut dengan karies email. Apabila karies email ini tidak segera ditambal, maka akan terus berlanjut ke tahap selanjutnya yaitu mengenai lapisan dentin atau disebut karies dentin. Selanjutnya apabila pada tahap karies dentin belum juga dilakukan penambalan maka proses lubang pada gigi tersebut akan berlanjut dan akan mengenai atap pulpa dan menyebabkan terjadinya radang pada pulpa atau dikenal dengan istilah pulpitis. Orang yang terkena pulpitis ini akan merasakan rasa sakit yang hebat bila terkena rangasangan dingin, kemasukan makanan, atau terkena suatu yang keras.
Agar hal-hal tersebut tidak terjadi, maka perlu dilakukan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya karies gigi adalah: mnegurangi frekuensi makan makanan yang banyak mengandung gula/ karbohidrat, meningkatkan ketahanan gigi, yaitu dengan aplikasi fluor secara tepat; serta menghilangkan plak bakteri dengan melakukan sikat gigi secara benar dan teratur. Namun jika kondisi sudah terlanjut berlubang, maka perlu dilakukan penambalan segera sesuai dengan lokasi dan tingkat keparahan lubang gigi tersebut.

Gusi berdarah
Masalah gusi berdarah seringkali dikeluhkan oleh para remaja. Biasanya terjadi tiba-tiba saat sedang menyikat gigi. Hal ini menunjukkan adanya peradangan gusi yang disebut dengan gingivitis. Peradangan pada gusi ini biasanya disebabkan oleh buruknya kebersihan mulut, sehingga terjadi penumpukan plak yang kemudian dapat mengiritasi gusi.
Gejala yang terlihat pada gusi yang mengalami peradangan adalah gusi tampak bengkak, kemerahan, lunak dan mudah berdarah saat mengyikat gigi.
Kunci utama dalam mengatasi radang gusi ini adalah pembersihan plak dan perbaikan kebersihan mulut. Hal ini dapat dilakukan dengan menyikat gigi secara benar dan rutin setelah makan dan sebelum tidur, serta menggunakan benang gigi (dental floss) untuk membersihkan celah antara dua gigi. Selain itu, perbanyaklah mengonsumsi vitamin C yang berkhasiat untuk meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah infeksi kuman (termasuk infeksi kuman penyebab radang gusi), dan mempercepat penyembuhan luka. Sumber vitamin C alami banyak terdapat pada buah-buahan segar seperti kiwi, jambu biji, jeruk, sirsak, dan mangga; juga pada sayuran misalnya brokoli.

Sariawan
Sariawan merupakan bahasa awam untuk berbagai macam lesi/ luka yang timbul di rongga mulut. Namun biasanya jenis sariawan yangs sering timbul sehari-hari pada rongga mulut disebut Stomatitis Aftosa Recurent.
Gejala sariawan berupa rasa sakit atau terbakar selama satu atau dua hari, kemudian timbul luka di rongga mulut. Rasa sakit dan panas pada sariawan membuat penderitanya susah makan dan minum, sehingga penderita menjadi lemas. Sariawan bisa menyerang siapa saja, juga para remaja. Biasanya daerah yang paling sering mengalami sariawan adalah pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah serta langit-langit.
Cara mencegah timbulnya sariawan di antaranya adalah dengan menjaga kebersihan rongga mulut, serta mengonsumsi nutrisi yang cukup (terutama yang mengandung vitamin B12 dan zat besi). Selain itu, jangan lupa menghindari stress. Namun bila ternyata sariawan selalu hilang timbul, maka dapat dicoba dengan berkumur air garam hangat dan berkonsultasi ke dokter gigi.

Bau mulut
Bau mulut atau halitosis pada saat berbicara sering tidak disadari oleh para penderitanya. Kita baru menyadari saat lawan bicaranya menjauh sedikit demi sedikit atau memalingkan muka saat berdekatan. Hal ini bisa berlangsung lama bila tidak ada sahabat atau teman kita yang memberitahu. Setelah menyadari adanya bau yang tidak sedap keluar dari mulut, maka biasanya orang akan menjadi minder, rendah diri, dan membatasi berkomunikasi dengan rekannya.
Halitosis 90% disebabkan oleh kurangnya kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut. Sedangkan sisanya disebabkan oleh penyakit kronis yang berhubungan THT, seperti: bronchitis, sinusitis, gingivitis, tonsillitis, penyakit saluran pencernaan, dan diabetes.
Agar terhindar dari bau mulut, dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut; menambal gigi berlubang yang masih dapat dipertahankan; mencabut gigi dan sisa akar gigi yang sudah tidak dapat dipertahankan lagi; menghindari makanan-makanan yang dapat menimbulkan bau mulut seperti jengkol, pete, bawang dan durian; serta menghilangkan kebiasaan merokok. Jangan lupa control ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali.

Mal oklusi
Mal oklusi adalah kontak yang tidak baik antara gigi-gigi atas dan gigi-gigi bawah pada saat rahang menutup. Hal ini bisa disebabkan oleh letak gigi yang tidak sesuai dalam lengkungnya. Letak gigi yang tidak baik ini bisa disebabkan oleh: perbandingan ukuran lebar gigi dengan ukuran lengkung rahang yang tidak sesuai, kebiasaan buruk mendorong gigi dengan lidah atau mengisap jari, serta akibat dari tanggalnya gigi sulung sebelum waktunya kerena karies maupun kecelakaan.
Perawatan mal oklusi dapat dilakukan dengan menggunakan alat ortodonti atau kawat gigi untuk memperbaiki posisi gigi agar didapatkan kontak yang baik antara gigi-gigi atas dan gigi-gigi bawah. Tujuan perawatan ortodonti adalah mendapatkan oklusi yang sehat secara fungsional, dan indah dari segi estetika.

Pewarnaan gigi
Pewarnaan gigi dapat mengurangi keindahan penampilan dan mempengaruhi percaya diri seseorang. Hal ini terjadi pada anak-anak dan remaja yang sangat memperhatikan penampilannya. Banyak sekali cara/ teknik perawatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah pewarnaan pada gigi ini. Teknik-teknik perawatan tersebut antara lain dengan veneer/ crown dan bleaching. Perawatan ini harus dikerjakan oleh ahlinya sesuai dengan metode standar yang berlaku, agar diperoleh hasil yang baik dan aman.

1 comment:

  1. Terimakasih Infonya
    sangat bermanfaat..
    Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Kedokteran di UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA Yogyakarta
    :)

    ReplyDelete